Folklore dan Artefak Masyarakat Dusun Mangkaluku

Setiap daerah yang terdiri atas komunitas atau  kelompok masyarakat, pastinya memiliki cerita-cerita rakyat yang berasal dari nenek moyang terdahulu, cerita ini memiliki nilai-nilai kebudayaan, nilai ini bisa berarti pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh pendahulu daerah tersebut, juga bisa berarti menceritakan sejarah dari daerah tersebut.rumah Masyarakat Dusun Mangkaluku rumah Masyarakat Dusun Mangkaluku

Di Dusun Mangkaluku, Desa Malimbu, Kec. Sabbang, Kab. Luwu Utara memiliki beberapa cerita rakyat, ada yang berisi tentang nilai budaya, etika dan juga yeng menceritakan tentang sejarah bagaimana sehingga daerah ini dinamakan Dusun Mangkaluku.

  1. Cerita Rakyat tentang Sejarah Dusun Mangkaluku

Pada zaman dahulu, di sebuah sungai yang dinamai sungai Saddan oleh penduduk. Tempat ini adalah tempat dimana biasanya bidadari ini mandi. Pada kala itu, ada 7 orang bidadari yang turun ke bumi untuk mandi, sebelum turun ke sungai 7 bidadari tersebut menyimpan selendangnya diatas batu, lalu mereka ke sungai untuk mandi. Disaat mereka mandi, mereka bersenda gurau tanpa menyadari ada seorang lelaki yang memperhatikan mereka mandi, lelaki tersebut saking senangnya melihat kecantikan bidadari-bidadari yang mandi disungai dia mencuri salah satu selendang sang bidadari, dia mencuri selendang merah. Dia tidak menyadari akibat dari perbuatannya, pemilik selendang merah tersebut tidak bisa kembali kekayangan. Setelah ditinggal pergi oleh teman-temannya .

Kandawira : “siapa pun yang menemukan selendangku akan kuberikan hadiah, jika wanita akan kujadikan adik, dan jika pria akan kujadikan suami”.

Sang bidadari pun akhirnya tinggal di bumi karena dia tidak menemukan selendangnya, dia bertemu dengan seorang pria yang bernama Sanggaibolang. Mereka pun akhirnya tinggal bersama, dan mereka memutuskan untuk tinggal di sungai yang bercabang 3 Sanggaibolang bertanya kepada kandawira,

Sanggai bolang : “dimanaki ini tinggal”? kandawira menjawab

Kandawira : “kita tinggal di cabang 3 saja” tempat kandawira sering mandi.

Setelah mereka menikah Sanggaibolang bertani dan kandawira bertenun dirumah. Dan hasil dari pernikahan mereka, Kandawira melahirkan seorang anak yang diberi nama Kandawari, sampai suatu hari Kandawira berpesan kepada suaminya agar suaminya tidak memanggilnya jika sang anak menangis, karena jika suaminya memanggilnya dia akan menghilang. Kandawira membuat sebuah tenunan yang tidak jadi, dan orang-orang pada waktu itu masih kafir jadi mereka menyembah tenun yang dibuat oleh kandawira, dan sampai saat ini tenun tersebut sudah tidak ada karena telah dibawa oleh para gerombolan.

Waktu terus berlalu, anak kandawira dan Sanggaibolang tubuh dewasa dan menikah dengan seorang pria yang bernama libani. Suatu hari Libani pulang dari kebun mendapati anaknya sedang menangis karena kelaparan, dia menyuruh istrinya kandawari untuk memasak untuk dirinya dan anaknya, tapi kandawari tidak menghiraukannya dia tetap melanjutkan tenunnya, mendengar tangisan anaknya yang tak berhenti libani marah dan mengambil belidah (semacam parang) dan membelah kepala istrinya, sampai darahnya bercucuran ke mukanya, istrinya merasa kesakitan dan lari ke bukit yang disebut buntudora dan terus ke sungai, sesampainya disungai kandawari menghilang. Sang anak  mencari-cari ibunya tapi mereka tak menemukannya, tiba-tiba datang Nenek Pakande dari gunung dan menyuruh si anak untuk menjemur jahe agar bisa dipakai untuk memakan manusia, tiba-tiba ada seekor kadal datang, dan anak itu mengatakan kepada sang kadal

Kandawari : “janganko langkahiki ini, ini  jahenya nenekku”

Sang kadal pun berbicara dengan sang anak, anak itu disarankan untuk hati-hati dengan nenek pakande karena nenek pakande ingin memakannya. Kemudian anak itu bertanya kepada sang kadal,

Kandawari : “Bagaimana caranya agar saya tidak dimakan oleh Nenek Pakande?” Sang kadal menyuruhnya mengambil tali dan memanjat kelapa sambil bernyanyi “lojo’-lojo  kaluku sulelao tabaro pasitanda bonginna pademorong loleka” Semakin anak itu menyanyi semakin pohon kelapa tersebut meninggi. Setelah datang Nenek Pakande yang sudah gosok gigi menggunakan jahe, dia mencari sang anak, tapi dia dan sang kadal telah membuat kesepakatan, jika Nenek Pakande datang dan berteriak “manamako”? yang menjawab adalah sang kadal “saya disini”.

Nenek Pakande : “bagaimana ini saya bisa kesitu”?,

Kadal          : “ambilmako tempat sampah terus masuk kedalam. Terus sama-samako anjing beranak didalam”.

Setelah Nenek Pakande berada di pertengahan pohon kelapa Kandawari yang menarik tali tersebut melepaskan tali dan nenek pakande jatuh ke tanah di makan anjing dan terbakar api. Setelah nenek pakande meninggal sang anak berbicara kepada pohon kelapa,

Kandawari : “kalau mamaku di gowa rebahkanki ini pohon di Gowa, kalo mamaku di jawa rebahkan dijawa ini pohon”

Kemudian pohon tersebut rebah pelan-pelan sampai di gowa di samping lumbun. Sampai disitu, ada orang gowa yang menumbuk dan anak tersebut menangis terus karena kelaparan, jadi sang anak datang ke ibu-ibu yang sedang menumbuk untuk meminta makanan, setelah diberikan makanan Kandawira yang tidak sadar bahwa anak tersebubt adalah anaknya Kandawari,  berkata kepada sang anak.

Kandawira : “nak mauko kah liat kutu saya”,

Kandawari :“iya boleh”.

Setelah melihat kepala ibu tersebut, sang anak melihat bekas belidah tersebut.

Anak   :“luka dikepalata sama dengan luka dikepalanya ibu saya di Bontodora”,

Kandawira : “apa kau bilang? Coba ulangi”,

Kemudian, anak tersebut  mengulangi kata-katanya dan sang ibu berkata

Kandawira : “anakkumi ini, anakkumi ini”

Sang ibu membawa anak ini kerumahnya dan memberikannya makan yang baik-baik, karena anak ini ternyata adalah anaknya. Sehingga itu orang Mangkaluku yang berkembang di Gowa, orang-orang Mangkaluku punya kaitan dengan orang-orang dan raja gowa.

  1. Tarian Adat Makkuranjeng

Dusun Mangkaluku adalah salah satu dusun yang ada di Desa malimbu, Kec. Sabbang, Kab. Luwu Utara. Terletak jauh dari dusun yang lainnya di Desa Malimbu. Dusun Mangkaluku adalah daerah yang sangat terpencil, walaupun demikian bukan berarti masyarakat di Dusun Mangkaluku ini juga kehilangan kebudayaannya, melainkan masyarakat Dusun Mangkaluku tetap melestarikan kebudayaannya.

Di beberapa suku di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan memiliki kebudayaannya tersendiri, juga termasuk kesenian tradisional, seperti lagu tradisional, dan juga tarian tradisional.

Di Dusun Mangkaluku, Kecamatan Sabbang, Kabuaten Luwu Utara juga memiliki kesenian tradisional. Sebuah tarian yang yang tercipta dari peradaban yang dibentuk oleh nenek moyang masyarakat dusun mangkaluku. Tarian ini, dimainkan oleh para wanita dan laki-laki yang membentuk sebuah lingkaran sambil berputar dan menghentakkan kaki hingga timbul suara yang teratur dan memiliki tempo. Suara ini pula yang menjadi nada atau musik pengiring dari tarian Makkuranjeng. Selain itu, para penari juga menyanyikan sebuah lagu tradisional.

Tarian ini biasa juga disebut tarian Datu Lapappa. Yang menceritakan tentang kehidupan salah seorang raja yang yang menemukan sebuah daerah dan menamakan daerah tersebut dengan sebutan Mangkaluku.

Photo-0242

Adapun isi dari lagu Tradisional (terjemahan dari nenek Sero) ini yaitu :

Tarian Raja Datu Luwu ( Datu Lapappa )

Cucu Raja dimana ?

Anak Arung mau kemana?

Mari kita ramaikan tarian Datu Lapappa

Mengikuti anak sungai, namanya Sungai Binuang

Dia sampai di Mangkaluku

Muaranya Asih-asih, dia membuat diriny sendiri Miskin

Daun kayu dia buat atap

Daun kayu dia jaikan tempat tidur

Kayu busuk dia jadikan bantal

Dia berikan kata-kata kepada To Makaka ( pemangku Adat ) Pungburinda

Ujung wara mangkaluku

Tengah wara baebunta

Badan wara patimang

Pantat wara palopo

Kampungnya sawerigading

  1.  Artefak

Daerah  Mangkaluku, selain memiliki cerita rakyat dan seni tari, juga memiliki situs-situs sejarah, antara lain :

  1. 1.   Batu Lakumba

Batu Lakumba adalah batu yang dipercaya oleh masyarakat Dusun Mangkaluku yang pada zaman dahulu, ada satu keluarga yang hidup di hutan dekat sungai. Terdiri dari seorang ibu dan dua orang anak.

 Photo-0226 Photo-0228

 

Pada suatu hari, sang ibu menyuruh anak sulungnya untuk memasak sayuran untuk dijadikan makanan pada saat itu. Sang ibu menyuruh anak sulungnya untuk memasak sayuran yang kenetulan nama sayuran tersebut mirip dengan nama anak bungsunya. Kemudian, pergilah si sulung untuk memasak sayuran. Tapi, si sulung sangat bingung, ia mengira bahwa ia disuruh oleh ibunya untuk memasak adiknya. Untuk melaksanakan perintah ibuya, iapun memasak adiknya untuk dijadikan makanan. Namun sang ibu mengetahui tingkah si sulung dan ia sangat marah. Kemudian sang ibu memburu anak sulungnya, namun karena takut si sulung pun berlari, sampai akhirnya ia melihat batu dan iapun memutuskan untuk bersembunyi di batu tersebut. Akan tetapi, pada saat si sulung masuk kedalam batu, tiba-tiba batu tersebut tertutup rapat dan iapun terkurung di dalamya.

Dan sampai sekarang, masyarakat Dusun Mangkaluku meyakini kebenaran cerita tersebut.

  1. 2.      Batu Tanduk

Batu Tanduk ini, terletak sekitar 20 meter dari pemukiman masyarakat, Batu ini merupakan salah satu peninggalan arkeologi yang ada di Dusun Mangkaluku Kiecamatan Malimbu Kabupaten Luwu Utara. Di atas batu ini terdapat ukiran-ukiran yang tidak ada seorangpun mengetahui tulisan ini. Pada saat-saat tertentu, batu ini mengeluarkan cahayapada tulisan tersebut, menurut Yunus seorang masyarakat Dusun Mangkaluku Kecamatan Malimbu Kabupaten Luwu Utara yang telah menyaksikan batu tersebut mengeluarkan cahaya.

Photo-0214

Sekitar tahun 2000, seorang  arkeolog dari luar negeri datang untuk meneliti batu tersebut, namun  menurut pengakuan Yunus, setelah meneliti batu tersebut tidak ada juga yang mengetahui ukiran tersebut.  Namun, hingga sekarang batu tersebut diyakini oleh masyarakat setempat telah ada pada saat Kandawari hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s